STMIK Mercusuar –
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengumumkan bahwa coding dan kecerdasan buatan (AI) akan menjadi bagian dari kurikulum sekolah di Indonesia. Kebijakan ini bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan digital yang relevan di era teknologi saat ini.
Namun, implementasi kebijakan ini tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya tenaga pengajar yang kompeten di bidang coding dan AI. Oleh karena itu, seorang pakar teknologi sekaligus Direktur Perencanaan, Sistem Informasi dan Transformasi Digital Universitas Padjadjaran (Unpad) Yudhie Andriyana, M. Sc, Ph. D berpendapat bahwa mahasiswa perlu dilibatkan untuk mendukung pengembangan talenta digital sejak dini.
Alasan Keterlibatan Mahasiswa
Yudhie Andriyana menyampaikan beberapa alasan mengapa mahasiswa perlu dilibatkan dalam pengajaran coding dan AI di sekolah:
- Keterbatasan SDM: Yudhie menilai bahwa saat ini kemampuan digital dari staf pengajar di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, perlu kontribusi dari pihak lain, dalam hal ini mahasiswa, untuk berperan serta dalam program ini.
- Pengalaman dan Pengetahuan: Mahasiswa, terutama yang berkuliah di bidang teknologi informasi, memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih mendalam tentang coding dan AI. Mereka dapat menjadi mentor yang baik bagi siswa di sekolah.
- Mempercepat Adopsi Teknologi: Dengan melibatkan mahasiswa, adopsi teknologi di kalangan siswa dapat dipercepat. Mahasiswa dapat membantu siswa memahami konsep-konsep dasar coding dan AI dengan cara yang lebih mudah dan menyenangkan.
- Pengembangan Diri Mahasiswa: Keterlibatan dalam program ini juga dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri. Mereka dapat belajar mengajar, berkomunikasi, dan bekerja dalam tim.
Tantangan dan Solusi
Meskipun demikian, melibatkan mahasiswa dalam pengajaran coding dan AI di sekolah juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangannya adalah bagaimana memastikan kualitas pengajaran yang diberikan oleh mahasiswa.
Untuk mengatasi tantangan ini, Yudhie Andriyana memberikan beberapa solusi:
- Pelatihan dan Pendampingan: Mahasiswa yang akan terlibat dalam program ini perlu diberikan pelatihan dan pendampingan yang cukup. Mereka perlu memahami kurikulum yang akan diajarkan, serta metode pengajaran yang efektif.
- Supervisi: Perlu ada supervisi yang ketat terhadap mahasiswa yang mengajar di sekolah. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa mereka memberikan pengajaran yang berkualitas.
- Evaluasi: Program ini perlu dievaluasi secara berkala. Tujuannya adalah untuk mengetahui efektivitas program, serta untuk melakukan perbaikan jika diperlukan.
Kesimpulan
Melibatkan mahasiswa dalam pengajaran coding dan AI di sekolah adalah salah satu cara untuk mengatasi tantangan kurangnya tenaga pengajar yang kompeten di bidang ini. Selain itu, keterlibatan mahasiswa juga dapat mempercepat adopsi teknologi di kalangan siswa, serta menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri.
Namun, perlu diingat bahwa kualitas pengajaran yang diberikan oleh mahasiswa perlu dipastikan. Oleh karena itu, perlu ada pelatihan, pendampingan, supervisi, dan evaluasi yang ketat terhadap program ini.
